Senin, 20 Juni 2011

mandurorejo street

A short story by Nikken Wahyu Kinteki

“Buka butik seperti itu kelihatannya sangat menarik. Nantinya kita bisa bekerja sama.” Indah, salah satu sahabatku bertutur mengenai mimpinya.
“Aku ingin menjadi PNS seperti kedua orang tuaku.” Dyah menyahut. Terdengar sangat menjanjikan. Lalu berikutnya giliran Bella menyambung,
“Aku ingin menjadi seseorang yang menggaji orang lain. Bukan digaji orang.”
              Senja itu masih sangat jelas dalam ingatanku. Dan entah kenapa aku tidak bisa melupakannya. Sepulang dari ekstrakulikuler jurnalisme, aku dan ketiga sahabatku duduk di  bangku panjang di depan sebuah Taman Kanak-Kanak. Di depan TK itu berdiri sebuah butik baju yang cukup terkenal, terutama di Jalan Mandurorejo, salah satu jalan protokol di pusat kabupaten mungilku.
“Kamu mau jadi apa?”
“Apa mimpimu?”
“Kamu, Ken?”
              Mereka bertiga serentak menyerangku. Lebih tepatnya, aku terpojokkan. Aku gadis tujuh belas tahun saat itu, berseragam putih abu-abu, dan terlihat normal seperti siswi SMA lainnya. Tapi sebenarnya jiwaku terpasung dan terbelenggu oleh banyak masalah, membuatku ingin menjerit setiap saat. Tujuh belas tahun. Di usia yang manis itu aku justru dikuasai oleh pesimisme. Aku sering bolos sekolah tanpa alasan, dan parahnya aku tidak punya mimpi untuk masa depanku sendiri.
“Aku… Aku hanya ingin menjadi ibu yang baik.”
              Indah, Dyah, dan Bella spontan menatapku bingung dan tidak percaya.
“Ada yang janggal?” tanyaku, sedikit salah tingkah dengan serbuan mata mereka. “Aku menyukai anak kecil.” lanjutku.
“Kenapa tidak jadi guru di TK ini saja kalau kamu suka anak kecil?”
“Kita baru tujuh belas tahun, Ken! Jangan pikirkan hal-hal yang masih jauh.”
“Kamu pedofilia ya?”
              Selanjutnya banyak tawa dan cerita di sisa sore itu. Angin khas Mandurorejo dan langit jingga di Barat turut mendengar kisah-kisah kami. Sementara itu pikiranku hanyut pada kalimatku sendiri. Tentang ibu. Aku punya masalah klasik dengan ibuku, yang agak sulit untuk dijelaskan. Sebuah masalah kecil dari ribuan masalah lainnya. Ibuku hanya seorang lulusan Sekolah Rakyat yang sekadar tahu baca tulis. Waktunya lebih banyak ia habiskan di dapur dan merawat ayahku yang sudah sepuh. Aku selalu merasa ibu tidak punya waktu untuk memerhatikanku. Mutlak aku tidak pernah berbagi cerita dengannya. Mungkin hal-hal ini akan tabu bagi ibu; siapa cinta pertamaku, berapa rankingku di kelas, kapan pertama kali aku menstruasi, atau bahkan apa mimpi-mimpiku.
              Aku tumbuh menjadi gadis yang tidak bisa lembut pada perasaanku sendiri dan kaku untuk mengungkapkan kasih sayang ataupun cinta. Baik secara langsung maupun tidak, kepribadianku sangat dipengaruhi oleh hubunganku dengan ibu. Setiap pagi aku menghilang begitu saja setelah mengambil jatah uang saku di atas meja makan yang sudah disiapkan ibu. Tidak pernah ada acara berpamitan dan mencium tangannya. Sepulang sekolah biasanya aku marah dan ngambek saat melihat isi meja makan. Berkali-kali kukatakan bahwa aku tidak suka wortel. Tapi selalu saja ada wortel di masakan ibu. Imbasnya, aku jarang makan dan terserang maag.
              Sampai suatu hari kakak sulungku melahirkan putra keduanya, bertepatan dengan pergelaran event bulutangkis Thomas Cup dan Uber Cup 2008 yang berlangsung di Jakarta. Kakakku harus lebih lama dirawat di rumah sakit, sementara putranya dititipkan di rumahku. Aku bersedia membantu merawatnya dan saat itulah aku merasa bayi mungil itu menjadi milikku. Sejenak aku lupa akan demam bulutangkis, salah satu olah raga yang sangat kugilai. Aku menyaksikan keajaiban di mahluk kecil itu, merasakan kebahagiaan, dan kerepotan. Tangisnya yang tidak kenal waktu membuatku harus siap siaga kapan saja. Melompat dari tempat tidur tanpa pikir panjang untuk mengganti popoknya, menyiapkan susu, atau menimangnya. Melelahkan sekaligus menakjubkan.
              Seperti itukah yang dirasakan ibu ketika pertama kali aku hadir di dunia? Komitmen untuk menjagaku? Berdoa tiada henti untuk segala kebaikanku? Meniupkan harapan-harapan padaku? Ya. Aku telah menemukan jawabannya. Seharusnya aku tidak bertele-tele untuk menyalahkan ibu. Harapan ibu ada padaku. Dan betapa mulianya ibuku karena tak pernah menuntut dari apa yang menjadi harapannya. Di sisi lain, aku banyak mendengar cerita temanku yang depresi karena beragam tuntutan orang tuanya yang mengekang.
“Semoga cita-citamu tercapai, Nduk.”
              Itu satu-satunya kalimat ibu saat melepasku merantau ke luar kota untuk kuliah. Sepanjang perjalanan aku menangis memaknai kata-katanya yang singkat itu. Aku salah jika selama ini beranggapan ibu telah membuatku tidak bisa bermimpi. Justru ibu tidak pernah membatasi mimpiku. Aku boleh bermimpi apa saja tanpa ia harus ikut campur di dalamnya. Ibu paham betul aku tidak suka wortel, tapi ia khawatir angka minus mataku akan bertambah. Karenanya, setiap hari ibu memasak wortel untuk menyuplai vitamin A untuk mataku yang tidak lagi normal.
              Sahabatku, Indah, Dyah, dan Bella, aku ingin kembali ke tepi Jalan Mandurorejo sore itu. Untuk mengatakan sesuatu yang belum tuntas.
“Aku hanya ingin menjadi ibu yang baik, tapi aku tidak akan bisa sebaik ibuku. Apa kalian tahu? Wanita paling seksi di dunia adalah wanita yang cepat-cepat bangun dari tidurnya karena mendengar tangis anaknya. Dan wanita paling cantik itu adalah ibuku.”
              Terima kasih, Tuhan. Kau menghadirkanku di dunia melalui rahim ibuku tercinta. Meski tak pernah kuungkapkan, aku tahu Kau akan menyampaikan kalimat ini pada ibu.
“Ibu, aku mencintaimu.”



Purwokerto, 9 Juni 2011
Nikken WK